| DEFINISI Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Treponema pallidum. |
| PENYEBAB Bakteri Treponema pallidum. Bakteri ini masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir (misalnya di vagina atau mulut) atau melalui kulit. Dalam beberapa jam, bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sifilis juga bisa menginfeksi janin selama dalam kandungan dan menyebabkan cacat bawaan. Seseorang yang pernah terinfeksi oleh sifilis tidak akan menjadi kebal dan bisa terinfeksi kembali. |
| GEJALA Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi; rata-rara 3-4 minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun dan jarang menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak maupun kematian. Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang melalui 4 tahapan:
Neurosifilis meningovaskuler. Merupakan suatu bentuk meningitis kronis. Gejala yang terjadi tergantung kepada bagian yang terkena, apakah otak saja atau otak dengan medulla spinalis: - Jika hanya otak yang terkena akan timbul sakit kepala, pusing, konsentrasi yang buruk, kelelahan dan kurang tenaga, sulit tidur, kaku kuduk, pandangan kabur, kelainan mental, kejang, pembengkakan saraf mata (papiledema), kelainan pupil, gangguan berbicara (afasia) dan kelumpuhan anggota gerak pada separuh badan. - Jika menyerang otak dan medulla spinalis gejala berupa kesulitan dalam mengunyah, menelan dan berbicara; kelemahan dan penciutan otot bahu dan lengan; kelumpuhan disertai kejang otot (paralisa spastis); ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dan peradangan sebagian dari medulla spinalis yang menyebabkan hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih serta kelumpuhan mendadak yang terjadi ketika otot dalam keadaan kendur (paralisa flasid). Neurosifilis paretik. Juga disebut kelumpuhan menyeluruh pada orang gila. Berawal secara bertahap sebagai perubahan perilaku pada usia 40-50 tahun. Secara perlahan mereka mulai mengalami demensia. Gejalanya berupa kejang, kesulitan dalam berbicara, kelumpuhan separuh badan yang bersifat sementara, mudah tersinggung, kesulitan dalam berkonsentrasi, kehilangan ingatan, sakit kepala, sulit tidur, lelah, letargi, kemunduran dalam kebersihan diri dan kebiasaan berpakaian, perubahan suasana hati, lemah dan kurang tenaga, depresi, khayalan akan kebesaran dan penurunan persepsi. Neurosifilis tabetik. Disebut juga tabes dorsalis. Merupakan suatu penyakit medulla spinalis yang progresif, yang timbul secara bertahap. Gejala awalnya berupa nyeri menusuk yang sangat hebat pada tungkai yang hilang-timbul secara tidak teratur. Penderita berjalan dengan goyah, terutama dalam keadaan gelap dan berjalan dengan kedua tungkai yang terpisah jauh, kadang sambil mengentakkan kakinya. Penderita tidak dapat merasa ketika kandung kemihnya penuh sehingga pengendalian terhadap kandung kemih hilang dan sering mengalami infeksi saluran kemih. Bisa terjadi impotensi. Bibir, lidah, tangan dan seluruh tubuh penderita gemetaran. Tulisan tangannya miring dan tidak terbaca. Sebagian besar penderita berperawakan kurus dengan wajah yang memelas. Mereka mengalami kejang disertai nyeri di berbagai bagian tubuh, terutama lambung. Kejang lambung bisa menyebabkan muntah. Kejang yang sama juga terjadi pada rektum, kandung kemih dan pita suara. Rasa di kaki penderita berkurang, sehingga bisa terbentuk luka di telapak kakinya. Luka ini bisa menembus sangat dalam dan pada akhirnya sampai ke tulang di bawahnya. Karena rasa nyeri sudah hilang, maka sendi penderita bisa mengalami cedera. |
| DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan hasil pemeriskaan laboratorium dan pemeriksaan fisik. Ada 2 jenis pemeriksaan darah yang digunakan:
Untuk neurosifilis, dilakukan pungsi lumbal guna mendapatkan contoh cairan serebrospinal. Pada fase tersier, diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksan antibodi. |
| PENGOBATAN Penderita sifilis fase primer atau sekunder bisa menularkan penyakitnya, karena itu penderita sebaiknya menghindari hubungan seksual sampai penderita dan mitra seksualnya telah selesai menjalani pengobatan. Pada sifilis fase primer, semua mitra seksualnya dalam 3 bulan terakhir terancam tertular. Pada sifilis fase sekunder, semua mitra seksualnya dalam 1 tahun terakhir terancam tertular. Mereka harus menjalani tes penyaringan antibodi dan jika hasilnya positif, mereka perlu menjalani pengobatan. Antibiotik terbaik untuk semua fase sifilis biasanya adalah suntikan penisilin: - Untuk sifilis fase primer, suntikan diberikan melalui kedua bokong, masing-masing 1 kali. - Untuk sifilis fase sekunder, biasanya diberikan suntikan tambahan dengan selang waktu 1 minggu. Penisilin juga diberikan kepada penderita sifilis fase laten dan semua bentuk sifilis fase tersier, meskipun mungkin perlu diberikan lebih sering dan lebih lama. Jika penderita alergi terhadap penisilin, bisa diberikan doksisiklin atau tetrasiklin per-oral selama 2-4 minggu. Lebih dari 50% penderita sifilis stadium dini, terutama sifilis fase skunder, mengalami reaksi Jarisch-Herxheimer dalam waktu 2-12 jam setelah pengobatan pertama. Reaksi ini diyakini merupakan akibat dari matinya jutaan bakteri. Gejalanya adalah merasa tidak enak badan, demam, sakit kepala, berkeringat, menggigil dan semakin memburuknya luka sifilis yang bersifat sementara waktu. Penderita neurosifilis kadang mengalami kejang atau kelumpuhan. Setelah menjalani pengobatan, penderita sifilis fase laten atau fase tersier diperiksa secara teratur. Hasil positif dari pemeriksaan antibodi biasanya menetap selama beberapa tahun, kadang seumur hidup penderita. Hal ini tidak menunjukkan adanya suatu infeksi baru. Untuk mengetahui adanya infeksi baru dilakukan pemeriksaan darah yang lain. |
Rabu, 30 Juni 2010
SIFILIS
Diposting oleh pmrwira_smansades di 05.36 0 komentar
Label: Pendidikan Remaja Sebaya
Rabu, 23 Desember 2009
PENGARUH PACARAN BAGI PELAJAR
Dampak positif dan negatif pacaran bagi pelajar:
* Prestasi sekolahPacaran bisa menurunkan atau meningkatkan prestasi belajar kita. Prestasi meningkat biasanya karena semangat belajar yang naik akibat ada pacar yang senantiasa memberikan dorongan dan perhatian atau karena ingin membuktikan kepada orangtua bahwa meskipun kita pacaran prestasi belajar kita tidak terganggu.Prestasi belajar bisa menurun jika ada permasalahan yang cukup berat hingga mengganggu konsentrasi dan gairah untuk belajar atau lebih senang menghabiskan waktu bersama sang pacar daripada belajar.
* Pergaulan sosialPergaulan sosial dengan teman sebaya maupun lingkungan sosial sekitar bisa menjadi meluas atau menyempit. Pergaulan menjadi sempit kalau kita lebih banyak menghabiskan waktu hanya berdua, enggak gaul lagi dengan teman lain. Makin lama biasanya kita menjadi sangat bergantung pada pacar kita atau sebaliknya dan tidak memiliki pilihan interaksi sosial lainnya.Hubungan dengan keluarga pun biasanya menjadi renggang karena waktu luang lebih banyak dihabiskan dengan pacar.
* Bisa stresHubungan dengan pacar tentu saja tidak semulus yang semula diduga karena memang ada perbedaan karakteristik, latar belakang, serta perbedaan keinginan dan kebutuhan. Hal itu menyebabkan banyak sekali terjadi masalah dalam hubungan. Biasanya hal itu akan menguras energi dan emosi serta menimbulkan stres hingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.
* Berkembang perilaku baruPacaran dapat bermakna munculnya perilaku yang positif atau sebaliknya muncul perilaku negatif. Pacaran bisa membantu orang mengembangkan perilaku yang positif kalau interaksi yang terbentuk bersifat positif, sedangkan interaksi yang kurang mendukung tentu saja lebih memungkinkan terbentuknya perilaku negatif.Misalnya, pacaran dengan orang yang jago motret. Maka, bukan tidak mungkin kita akan tertular barang sedikit. Atau pacaran dengan orang yang sangat peduli sama orang lain dan penolong, maka kita yang tadinya cuek bisa saja tertular. Begitu pula pada kelakuan yang negatif.
Pacaran yang sehat dan bertanggung jawab:
1. Saling terbuka, mau berbagi pikiran dan perasaan secara terbuka, jujur, mau berterus terang dengan perasan kita terhadap tingkah laku pacar. Siap nerima kritik dan kompromi.
2. Menerima pacar apa adanya yang dilandasi oleh perasaan sayang. Tidak menuntut sesuatu yang berada di luar kemampuannya.
3. Saling menyesuaikan. Kalau dalam proses ini terlalu sering ribut, maka perlu mempertimbangkan kemungkinan berpisah.
4. Tidak melibatkan aktivitas seksual karena dapat mengaburkan proses saling mengenal dan memahami satu sama lain.
5. Mutual dependensi, masing-masing merasakan adanya saling ketergantungan satu sama lain. Oleh karena itu, diharapkan kita dan pacar mampu melengkapi kekurangan, sedangkan kelebihan yang dimiliki diharapkan mampu menutupi kekurangan pasangan.
6. Mutual respect, saling menghargai satu sama lain dalam posisi yang setara.
from: yahoo! answer
Diposting oleh pmrwira_smansades di 23.16 0 komentar
Label: Pendidikan Remaja Sebaya
Rabu, 02 September 2009
NARKOTIKA, ALKOHOL, PSIKOTROPIKA Dan ZAT ADITIF LAINNYA (NAPZA)
Pengertian NAPZA
NAPZA adalah akronim dari Narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lain. Sementara semua zat tersebut termasuk zat psikoaktif. Di beberapa buku lain disebut Narkoba.
Yang dimaksud dengan penyalahgunaan NAPZA adalah pemakaian NAPZA di luar indikasi medis, tanpa petunjuk atau resep dokter, pemakaian sendiri secara teratur atau berkala sekurang-kurangnya selama 1 bulan. Bila sudah dikatakan sebagai ketergantungan NAPZA maka hal ini ditandai dengan gejala purus obat (withdrawal symptom).
Jenis-jenis NAPZA
1. Narkotika
Narkotika berasal dari bahasa latin Narke, yang berarti beku, lumpuh atau dungu. Orang Malaysia menyebutnya dadah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, digunakan kata narkotika yang berasal dari Bahasa Inggris Narcotics. Narkotika merupakan zat atau bahan aktif yang bekerja pada Sistem Saraf Pusat (SSP), yakni otak. Menurut UU No 22 tahun 1997, Narkotika merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Narkotika menurut UU RI No.5 tahun 1997, yang termasuk psikotropika antara lain : obat penenang (diazepam, bromazepam, dll), obat tidur (nitrazepam, flunitrazepam, dll), psikostimulan seperti ekstasi (metilen-dioksimet-amfetamin) dan sabu-sabu (met-amfetamin). Obat anti psikosis dan obat anti depresi juga termasuk psikotropika walaupun jarang disalahgunakan.
Pasal 3 ayat 1 UU RI No 9 Th 1976 tentang Narkotika, menyebutkan bahwa narkotika hanya boleh digunakan untuk kepentingan pengobatan dan atau tujuan ilmu pengetahuan. Sedangan ayat 2 berbunyi bahwa Menteri Kesehatan berwenang menetapkan narkotika tertentu yang sangat berbahaya dilarang digunakan untuk kepentingan pengobatan dan atau tujuan ilmu pengetahuan.
a. Ganja, merupakan narkotika yang menimbulkan ketergantungan psikis, terutama bagi mereka yang telah rutin menggunakan. Cara pemakaiannya dengan dihisap seperti rokok.
b. Opiat, merupakan narkoba yang sangat cepat menimbulkan ketergantungan, berupa serbuk putih dengan rasa pahit. Cara penggunaan dapat dilakukan dengan disuntikkan, dihirup dan dimakan.
c. Kokain, cara pemakaiannya dihirup lewat hidung. Pada waktu menggunakan tampak lebih percaya diri dan tampak gembira. Pada kesehatan akan memperburuk system pernafasan dan gangguan pada otak.
2. Alkohol
Alkohol adalah jenis minuman yang mengandung etil alkohol, dan disesuaikan dengan kadar etil alkoholnya, misalnya wiski,vodka,bir, gen, arak, saquer, tuak, brem, ciu.. Sebenarnya alkohol merupakan zat yang relatif aman apabila penggunaannya dilakukan dalam jumlah yang semestinya. Tetapi bila berlebihan, dapat merusak saluran pencernaan, hati, jantung, ginjal serta dapat menimbulkan paranoid, depresi dan hilang ingatan.
Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi, maupun yang diproses dengan cara mencampur konsentrat dengan etanol atau dengan cara pengenceran minuman yang mengandung etanol.
Orang yang mengkonsumsi alkohol akan tampak gembira, banyak bicara dan bersemangat. Akan tetapi bila jumlah yang dipakai bertambah maka nampak gerakan mulai lambat, bicara cadel, jalan sempoyongan, mengantuk dan tertidur. Bila ketagihan akan nampak gelisah, gemetar, keluar banyak keringat, kesadaran menurun dan kejang. Alkohol, efeknya akan merusak saluran pencernaan, usus, hati, jantung, ginjal dan akan menimbulkan paranoid, depresi dan hilang ingatan. Bila ketagihan akan tampak gelisah, gemetar, keluar banyak keringat, kesadaran menurun dan kejang.
3. Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau bahan aktif bukan narkotika, bekerja pada SSP dan dapat menyebabkan perasaan khas pada aktivitas mental dan perilaku, serta dapat menimbulkan ketergantungan (ketagihan). Psikotropika terbagi dalam 4 golongan yaitu psikotropika golongan I, psikotropika golongan II, psikotropika golongan III, dan psikotropika golongan IV. Psikotropika yang banyak disalahgunakan pada akhir-akhir ini adalah psikotropika golongan I yang dikenal dengan istilah ekstasi dan psikotropika golongan II yang dikenal dengan nama shabu-shabu.
Secara umum, kerja psikotropika adalah mempengaruhi fungsi psikis, agitasi dan pengalaman sebagai akibat dari perubahan jiwa penderita, sehingga mampu berkomunikasi dengan lingkungan. Penderita lebih kooperatif untuk menerima psikoterapi dan rehabilitasi ke masyarakat.
a. Ekstasi adalah zat sintetik amfetamin yang dibuat dalam bentuk pil. Ekstasi berarti suka cita yang berlimpah-limpah, berlebihan, meluap. Zat ini bekerja merangsang saraf pusat otonom. Pil ini bekerja merangsang saraf pusat otonom. Pemakainya menjadi gembira dan sangat percaya diri. Ekstasi dikenal dengan nama inex, flash, speed,dll.
b. Shabu adalah zat metilamfetamin (turunan amfetamin) yang berbentuk kristal putih dan mudah larut dalam alcohol dan air.. Zat ini termasuk jenis stimulan (merangsang system saraf pusat otak). Dampaknya lebih kuat dan cepat daripada ekstasi. Pemakai jadi lebih bersemangat, percaya diri dan keberanian meningkat.
c. Zat penenang, efeknya adalah gangguan pada otak dan menyebabkan rasa ketakutan, bimbang diiringi rasa cemas berlebihan. Bentuk berupa tablet digunakan dengan cara ditelan secara langsung.
4. Zat Adiktif
Zat Adiktif Adalah zat yang dapat menimbulkan adiksi (addiction), yaitu ketagihan sampai pada dependensi yaitu ketergantungan, misalnya zat/ bahan yang tergolong amphetamin, sedativa/ hipnotika, termasuk tembakau (rokok).
a. Kafein, pada dasarnya akan menimbulkan rasa cemas dan gangguan pada jantung dan pembuluh darah, contohnya terdapat pada kopi.
b. Nikotin, efeknya menimbulkan gangguan pada jantungd an pembuluh darah, contoh terdapat pada rokok.
c. Solvent, efeknya menghambat pernafasan, infeksi dalam tenggorokan, gangguan pada otak, kerusakan pada hati dan ginjal. Misal zat perekat.
Penyalahgunaan NAPZA (Drug Abuse)
Pada dasarnya, penggunaan NAPZA dengan dosis yang diatur untuk kepentingan pengobatan tidak membawa akibat sampingan yang membahayakan bagi tubuh orang yang bersangkutan. Tetapi, disamping penggunaan secara legal, baik bagi kepentingan ilmu dan pengobatan, NAPZA banyak dipakai pula secara ilegal, atau disalahgunakan (abuse).
Istilah penyalahgunaan zat digunakan jika pemakaian zat diluar indikasi medik, tanpa petunjuk/ resep dokter, pemakaian sendiri secara teratur/ berkala sekurang-kurangnya selama 1 bulan. Penyalahgunaan inilah yang membahayakan, karena disamping akan membawa pengaruh terhadap diri pemakai dimana ia akan kecanduan dan hidupnya tergantung kepada NAPZA. Bila tidak terobati, jenis NAPZA yang digunakan akan semakin kuat dan semakin besar dosisnya (mempunyai daya ekskalasi), sehingga bagi dirinya akan semakin parah. Penyalahgunaan NAPZA merupakan suatu pola penggunaan yang bersifat patologik dan menimbulkan disfungsi sosial dan okupasional. Sifat bahan yang seringkali disalahgunakan tersebut mempunyai pengaruh terhadap sistem saraf pusat.
Ketergantungan zat adalah kondisi yang kebanyakan diakibatkan oleh penyalahgunaan zat, yang disertai dengan adanya toleransi zat (dosis semakin meninggi) dan gejala putus zat (wihdrawal symptoms).
Tahap-tahap Penggunaan NAPZA
Penyalahgunaan NAPZA sifatnya bertahap, yaitu :
1. Pemakaian coba-coba, yaitu pemakaian yang bertujuan ingin mencoba saja untuk memenuhi rasa ingin tahu.
2. Pemakaian sosial, yaitu pemakaian dengan tujuan bersenang-senang pada saat rekreasi atau santai.
3. Pemakaian situsional, yaitu pemakaian pada saat mengalami keadaan tertentu seperti ketegangan, sedih, kecewa dengan maksud untuk menghilangkan perasaan tersebut.
4. Penyalahgunaan, yaitu pemakaian sebagai suatu pola penggunaan yang menyimpang atau patologis, ditandai dengan intoksifikasi sepanjang haritak mampu menghentikan keinginannya walaupun sudah berusaha. Keadaan ini akan menimbulkan gangguan fungsional atau okupasional.
5. Ketergantungan, yaitu telah terjadi toleransi dan gejala putus zat bila pemakaian NAPZA dihentikan atau sekedar dikurangi.
Gejala Klinis Penyalahgunaan NAPZA
1. Perubahan fisik
Gejala fisik yang terjadi tergantung jenis zat yang digunakan, tetapi secara umum dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Pada saat menggunakan NAPZA; jalan sempoyongan, bicara pelo, apatis, mengantuk, agresif, curiga.
b. Bila kelebihan dosis (overdosis); nafas sesak, denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, nafas lambat atau terhenti, meninggal.
c. Bila sedang ketagihan (putus zat/sakaw); mata dan hidung berair, menguap terus-menerus, diare, rasa sakit di seluruh tubuh, kejang, kesadaran menurun.
d. Pengaruh jangka panjang ; penampilan tidak sehat, tidak peduli kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawatt dan keropos, terdapat bekas suntikan.
2. Perubahan sikap dan perilaku
a. Prestasi menurun, sering tidak mengerjakan tugas, kurang bertanggung jawab, sering membolos.
b. Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pada pagi hari, mengantuk.
c. Sering bepergian hingga larut malam, kadang tidak pulang tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
d. Sering mengurung diri, berlama-lama di kamar mandi, menghindari orang lain.
e. Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar, sikap bermusuhan, pencuriga, tertutup dan penuh rahasia.
f. Lebih boros atau sampai menjual barang-barang yang dimilkinya, untuk keluarga dengan yang status ekonominya rendah dapat menghalalkan berbagai cara,misalnya dengan mencuri.
Bahaya Penggunaan NAPZA
Bahaya lanjut penyalahgunaan NAPZA adalah sebagai berikut :
1. Terhadap keadaan fisik
a. Akibat zat itu sendiri, akan menyebabkan terjadi intoksifikasi bertahap dengan menaikkan dosis obat sedikit demi sedikit.
b. Akibat bahan campuran atau pelarut akan menimbulkan bahaya infeksi.
c. Akibat cara pakai yang tidak steril membuat pemakan akan terinfeksi virus menular seperti HIV/AIDS/hepatitis.
d. Akibat tidak langsung, biasanya mengakibatkan komplikasi sekunder sperti stroke dan malnutrisi.
2. Terhadap kehidupan mental emosional
Pemakaian narkoba akan menbuat individu dalam keadaan emosi yang labil, karena narkoba bias menimbulkan sedative hipnotik atau hiperreaktif.
3. Terhadap kehidupan sosial
Gangguan mental emosional pada penyalahgunaan NAPZA akan mengganggu fungsinya sebagai anggota masyarakat, bekerja atau sekolah. Pada umumnya prestasi akan menurun sampai dengan dipecat dari pekerjaan. Hal inilah yang bisa mendorong individu untuk lebih menyalahgunakan narkoba. Hal yang lebih berat lagi individu akan melakukan perbuatan kriminal untuk memenuhi kebutuhannya dalam menyalahgunakan narkoba.
Zat Psikoaktif Yang Dapat Disalahgunakan
Golongan / kelompok zat psikoaktif yang dapat disalahgunakan dan menyebabkan masalah ada bermacam-macam. Golongan utama dan ciri umum berbagai zat tersebut adalah sebagai berikut (34,35):
1. Zat Depresan
Kelompok ini meliputi alkohol, barbiturat dan berbagai jenis sedatif sintetik dan obat tidur (hipnotik). Semuanya sama-sama mampu menimbulkan rasa kantuk dan tenang, atau rasa santai yang menyenangkan. Tetapi, zat tersebut juga menyebabkan penggunanya “tak dapat menahan diri” dan kehilangan kemampuan mengendalikan perilaku akibat pengaruh depresan di bagian otak yang lebih tinggi. Inilah sifat alkohol yang menyebabkan pengaruh “stimulan” yang jelas. Semua obat ini mampu menimbulkan perubahan dalam susunan saraf yang menyebabkan gejala-gejala penghentian dan kemungkinan gawatnya gejala penghentian ini perlu ditonjolkan. Menghentikan ketagihan alkohol dan barbiturat yang secara fisik sudah parah, dapat sangat membahayakan jiwa.
2. Opiat (Opioid)
Obat prototype dari kelompok ini adalah morfin, zat aktif utama dalam opium. Opium adalah getah menyerupai damar yang dihasilkan oleh kapsul popi putih. Selain mengandung morfin, kapsul inipun mengandung zat psikoaktif lain yang dapat disarikan dalam bentuk murni, antara lain kodein, yaitu obat yang umum digunakan untuk mengurangi rasa nyeri dan batuk.
Daya kerja opium adalah pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dan juga pada usus. Opium terutama digunakan karena kerjanya pada usus. Pemakaian sebagai obstipans, sebagai bahan tunggal atau merupakan bahan utama dalam suatu kombinasi dengan obat-obat lain sebagai antidiare.
3. Stimulan
Kokain, amphetamin dan beberapa zat sintetik dapat menyebabkan kegembiraan yang meluap-luap dan kelainan psikotik jangka pendek. Semua zat itu mungkin menyebabkan penggunanya ketagihan, meskipun bila penggunaannya dihentikan, pengaruh tampaknya hanya berupa rasa lelah sementara, “merasa dikecewakan”, dan merasa tertekan.
4. Obat Halusinogen
Efek zat ini bagi tubuh yakni gangguan pada otak dan akan menimbulkan halusinasi, diiringi rasa takut yang berlebihan.
5. Inhalasia
Merupakan uap dari bahan yang mudah menguap saat dihirup, misalnya aerosol, aica aibon, isi korek api gas, cairan dry cleaning, uap bensin, vernis, cairan pemantik api, lem, semen karet, cairan pembersih, cat semprot, semir sepatu, cairan tip-ex, perekat kayu, bahan pembakar aerosol, pengencer cat (tinner). Inhalan biasanya dilepaskan ke paru-paru dengan menggunakan suatu tabung dan umumnya digunakan oleh anak dibawah umur atau golongan kurang mampu atau anak jalanan, karena ekonomis dan mudah dijangkau.
Diposting oleh pmrwira_smansades di 00.34 0 komentar
Label: Pendidikan Remaja Sebaya